Wasiat #13

Anakku, jikalau kau ingin menjadi raja, pakailah sifat qanaah. Kalau kau ingin peroleh surga dunia sebelum surga akhirat, pakailah budi pekerti yang baik Kedua sifat ini ialah kawan bahagia.

Iklan

Wasiat #12

Sifat Serakah

Anakku, keserakahan itu menyebabkan hati kita tertutup. Hati yang tertutup tidak dapat melihat kepentingan orang lain, juga tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Yang dipikirkan hanya kepentingan, kesenangan dan keselamatan dirinya sendiri.

Oleh karenaya, jauhilah sifat serakah. Dan ketahuilah bahwa sebagaimana orang lain, demikian pula dengan kita.

Doa Awal Tahun

Ya Allah ya Tuhan kami
Berikan kekuatan lahir bathin bagi kami
Agar mudah bagi kami dalam melalui segala rintangan, tantangan, cobaan dan hambatan dalam hidup ini
Jangan Engkau berikan cobaan yg berat kepada kami
Yang tak sanggup kami pikul sebagaimana cobaan kepada pendahulu kami
Berikan kenikmatan, kemuliaan dan rejeki yg berlimpah kepada kami
Seperti yang telah Engkau berikan kepada pendahulu kami
Ampuni dosa kami, keluarga kami, para sahabat kami dan seluruh umat-Mu ini
Agar ringan langkah kami menapaki kehidupan ini
Ya Allah ya Tuhan kami
Jadikanlah anak cucu kami dan keturunan kami
Menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, keluarga dan agama
Bekali mereka dengan rasa cinta kasih yang ikhlas
Hilangkan mereka dari sifat iri dan dengki
Tanamkanlah rasa cinta terhadap sesama kepada mereka
Sebagaimana kami mencintai mereka

Ya Tuhan Kami
Ridhoilah jalan kami
Tunjukkan yang benar itu benar
Tunjukkan yang salah itu salah
Kabulkanlah doa kami
Agar negeri ini bangkit dari keterpurukan
Agar negeri ini menjadi negeri yang di hormati
Karena kebersamaan dan persatuannya
karena keanekaragamannya
Karena kasih dan sayang antar sesamanya
Karena ke Bhineka Tunggal Ika-annya
Bukan menjadi negeri yang di cela
Karena perpecahannya dan perbedaannya
Karena korupsi dimana mana
Karena bencana tak jua reda

Ya Allah kami disini bersujud memohon Kepada-Mu
Kabulkanlah doa kami yang hina dihadapan-Mu
Yang berharap setitik kasih-Mu
Yang hanya bisa berharap dan meminta keridhoan-Mu
Amien Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Cupu Manik Astagina

Dan lihatlah, anak anak manusia yang berupa jiwa jiwa ilahi berkeliaran di tengah fajar. Tidur beralaskan kembang kembang mekar. Bangun dipangkuan cahaya bintang. Anak anak manusia ini selalu menjadikan hidupnya adalah ucapan syukur bersama kicauan burung yang berterima kasih pada kehangatan alam. Dalam jagad raya itu, sang surya menjadi mata dari malam.

“Putriku, benda ajaib ini adalah Cupu Manik Astagina, yang merupakan air kehidupan yang berasal dari permata permata mendung. Dalam air kehidupan itulah berada jagad raya sebelum dirusak oleh dosa manusia, di dalam air kehidupan itu jiwa jiwa ilahi hidup dalam keseimbangan serupa keindahan aneka warna. Itulah sebabnya kau tidak mendengar jeritan manusia atau kicauan burung atau gaung suara serigala yang merindukan sesuatu yang belum dimilikinya”.

“Romo …, tapi kenapa kami mesti menjadi kera, dimana keadilan di jagad raya ini ?”

Oh Dunia, bersinarlah karena penderitaan anak anaku ini. Teguklah air mata mereka, supaya kau mendapat berkah dari padanya. Air mata mereka adalah keheningan yang ingin menghampirimu. Berjalanlah bersama kesedihan anak anakku ini, dan janganlah kau takut, karena mereka tak akan membakarmu dengan api kemarahan, melainkan akan mendinginkanmu dengan sedu sedannya.

“Anakku, kera adalah titah yang merindukan kesempurnaan manusia. Ia paling dekat pada bentuk seorang manusia. Untuk itulah, ia selalu berprihatin, supaya lekas diangkat kesempurnaanya. Janganlah kau anggap itu semuanya sebagai ketidak adilan, tetapi rasakanlah sebagai kerinduan akan kesempurnaan. Dan berbahagialah kau,  Anakku, karena kerinduan itulah yang  menciptakan kerendahan hati dan memberi harapan akan sesuatu yang belum dimilki yaitu kesempurnaan. Lebih berbahagia kamu daripada mereka yang sudah berada dalam kepenuhan akan kesempurnaan tapi kemudian mencampakkan kepenuhan itu kepada dosa dosa yang diperbuatnya”

“Anakku, kau mengira hanya dengan budimu kau dapat mencapai kebahagiaan yang abadi. Kau lupa bahwa hanya dengan pertolongan yang Ilahi, baru kau dapat mencapai cita cita mulia. Manusia memang terlalu percaya pada kesombongannya, lupa bahwa kesombonganya hanyalah setitik air dilautan kelemahannya yang dapat menenggelamkan dirinya. Dan ingatlah pula, air kehidupan permata mendung itu pun sudi bercampur dengan air duniawi yang belum sempurna. Air suci itu menderita, tapi dari penderitaannya itulah dunia akan memperoleh kebahagiannya”. … Anak bajangnya mas Sindhu

Kemudian … Semenjak itu manusia sadar akan keberadaannya didunia dan mulailah manusia selalu berfikir dan bertanya tanya akan setiap hal untuk mencari jawaban terhadap persoalan persoalan hidup, kebenaran, kebaikan dan Tuhan Allahnya, kemudian manusia berikhtiar untuk membuka jalan pengertian yang tertutup misteri kearah kejelasan akan relita yang kadang secara radikal membongkar sampai keakar akarnya setiap gejala yang dipermasalahkan, agar sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat universal dengan mencari kejelasan hubungan sebab akibat seperti kita orang jawa yang mewasiatkan Cupu Manik Astagina menjadi pedoman hidup agar menjadi manusia yang sesungguhnya dengan Asta Bratanya.

Anakku …

“Wong Jawa nggone rasa, pada gulangening kalbu, ing sasmita amrih lantip, kumowo nahan hawa, kinemat mamoting driya”

Orang Jawa itu tempat perasaan, mereka selalu bergulat dengan kalbu atau suara hati dan Jiwa, agar pintar dalam menangkap maksud yang tersembunyi, dengan jalan berusaha menahan nafsu, sehingga akal dan fikiran dapat menangkap maksud yang sebenarnya.

Wanita atau wanodya kang puspita, wanita yang cantik jelita, adalah simbol keindahan. Keindahan ini tidak hanya tersirat pada bentuk luarnya saja tetapi juga yang ada dalam jiwa dan budinya. Keindadahan dari wanita yang sempurna merupakan simbol cita cita luhur, seperti laki laki yang ingin memiliki wanita yang cantik jelita untuk di jadikan istrinya. Dengan memiliki cita cita yang tinggi berarti manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk belajar, bekerja dan berusaha tanpa mengenal lelah serta pantang menyerah demi mencapai cita cita. Wanodya kang puspita disebut juga juwita yang berarti sarju wani ing tata, selalu berani membela kebenaran.

Garwa atau sigaraning nyawa, belahan jiwa. Suami adalah belah jiwa dari istri dan istri adalah belahan jiwa suami, satu jiwa dua raga. Maka garwa adalah simbol bersatunya manusia dengan lingkungannya, semua manusia hendaknya dianggap sebagai kawan hidup, dengan hidup rukun, damai, saling mengasihi seperti cinta kasih suami istri yang sehidup semati. Berati setiap manusia harus berbudi luhur.

Wisma atau rumah. Rumah adalah tempat kediaman keluarga yang sekaligus tempat berlindung dari panas dan hujan. Rumah harus diatur, di tata agar rapi dan indah sehingga suasana rumah dirasa asri dan damai. Demikialah juga hendaknya manusia, mempunyai sifat dan pribadi yang dapat melindungi sesama, menyimpan dan mengatur masalah dan bertindak bijaksana terutama mengatur pendapatan menurut tempat, waktu dan keadaan.

Turangga atau tetumpakaning prang para punggawa, kuda tunggangan dari para perwira selalu memiliki sifat gagah, kuat dan lincah, dapat berlari cepat, melompat dan berguling guling sesuai perintah penunggangnya. Bahkan dapat berlari kencang dan menabrak, memporak porandakan apa saja yang menjadi penghalang. Kuda dapat juga berdiri dengan kaki belakang dan menghantam apapun yang ada dimukanya sesuai kendali. Ulah kuda tunggangan perwira perang ini sebagai lambang agar manusia selalu sadar bahwa jasmani, panca indra dan nafsu manusia tergandung dari kendali jiwa dan budi manusia itu sendiri. Jiwa dan budi manusia haruslah selalu dapat menguasai, mengatur dan mengekang  gejolak nafsu jasmaniah agar manusia dapat hidup dengan tentram. Bukan sebaliknya dengan hidup liar tanpa kendali sehingga menuai badai dalam kehidupannya.

Curiga, curi lan raga, batu curi atau batu runcing bisa juga diartikan keris. keris adalah simbol kepandaian, keuletan dan ketangkasan hidup manusia dalam menghadapi segala tantangan hidup. Manusia hendaknya memiliki pikiran yang tajam dengan cara belajar, olah rasa, ulet, tangkas sehingga dapat pula mengambil tindakan yang tepat dan terhindar dari tipu daya sesama.

Kukila atau burung perkutut, suara merdu perkutut dipakai sebagai simbol sebagai tutur kata manusia dimana setiap kata yang diucapkan harus dapat menyejukkan, mendamaikan, dan  menjauhi kata kata yang  menyakitkan hati.  Setiap kata hendaknya tegas berisi, berwibawa sehingga manusia dapat saling menghargai.

Waranggana atau Penari Ronggeng, gerakan dan tingkah tarian ronggeng adalah simbol persaingan dan godaan dalam meraih cita cita luhur. Tarian ronggeng dimainkan oleh 5 orang penari, 1 wanita sebagai ronggeng dan 4 pria  yang melambangkan jenis godaan manusia. Adapun ke empat macam godaan itu adalah :

Amarah, nafsu yang timbul dari telinga atau pendengaran

Aluamah, nafsu yang timbul dari mulut atau kenikmatan rasa atau serakah

Sufiah, nafsu yang timbul dari mata atau penglihatan

Mutmainah, nafsu yang timbul dari hidung atau penciuman

Bila budi manusia dapat mengekang keempat nafsu itu, maka cita cita luhur akan mudah dicapai, karena manusia akan terhindar dari hidup berfoya foya dan bermalas malasan.

Pradangga, praptaning kendang lan gangsa atau keharmonisan gamelan yang diatur oleh irama kendang. Gamelan dilambangkan sebagai masyarakat yang hidup dengan aturan dan hukum yang dijalankan dan ditaati secara bersama sama. Semua manusia saling mendukung saling bermanfaat bagi sesama, sehingga mewujudkan kehidupan yang harmonis, selaras dan itulah kehidupan yang dicita citakan “tata tentrem karta raharja”

Begitulah bibit, bebet dan bobot berada

Musibah = Rahmat terselubung

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda laku­kan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang men­jalani hidup ini dalam keadaan tertidur. Mereka lahir, tumbuh, meni­kah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan tertidur.

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ”rahmat terse­lubung” karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olah­raga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seseorang baru me­nyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal.

Kematian orang yang kita ke­nal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,

”Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.”

Manusia bukanlah ”makhluk bumi” melainkan ”makhluk langit.” Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ”rumah” untuk mencari ”rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.

Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!

Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan (apalagi dengan me­nyalahgunakan jabatan) kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:

Belajarlah MENDENGARKAN.

Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya un­tuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

Wasiat Sunan Bonang

“Menehana teken marang wong kang wuta. Menehana mangan marang wong kang luwe. Menehana busana marang wong kang wuda. Menehana ngiyup marang wong kang kudanan.” (Sunan Bonang)

Artinya: Berilah tongkat kepada orang buta. Berilah makanan kepada orang lapar. Berilah pakaian kepada orang telanjang. Berilah payung kepada orang kehujanan.

 

Menurut Sunan Bonang, ada empat hal yang harus diperhatikan seorang pemimpin.

Pertama, berilah tongkat kepada orang buta. Buta mata dibantu agar tiba di tujuan, dan buta ilmu pengetahuan dibantu dengan pendidikan agar masyarakat mampu menolong dirinya sendiri untuk hidup layak.

Kedua, berilah makanan kepada orang lapar adalah anjuran untuk peduli kepada nasib orang miskin agar terlepas dari himpitan derita berkepanjangan dengan, antara lain, berbagai usaha perbaikan ekonomi.

Ketiga, berilah pakaian kepada orang telanjang. Orang telanjang adalah orang yang belum mengenal moral. Ia harus dipandu dan dipacu untuk hidup beradab dan berakhlak mulia.

Dan keempat, berilah payung kepada orang yang kehujanan, yakni memberi perlindungan kepada orang yang terancam dan berada dalam kesulitan, termasuk perlindungan hukum kepada orang yang hak asasinya dikebiri.

Pitutur Luhur

Pituture Simbah Kakung marang anak putu lan buyutku

Bocah bagus anakku lanang, ojo wedi golek-o pepadhang dalan, ora kendhat anggonku ngengudhang, Duh bocah bagus anakku lanang,

Wong tuwamu dudu raja, sing dak warisake dudu bandha donya, sangumu mung isi pitutur, muga dadi titah kang luhur.

Anak lanang bagusing ati, ojo lali anggonmu memuji, marang Gusti Kang Murbeng Dumadi, Muga dadi padhange ati.

Urip ing donyo iku sadelo, urip ing kono koyo samudra, mula nggeerr,…, ojo wegah padho tetanem, ing kono mbesuke bakal ngunduh.

Bocah bagus anakku lanang, ojo nganti ninggal piwulang, mumpung jembar golek-o pepadhang. Ojo jirih ing pepalang.

Sejatine ora ono opo-opo…., sejatine jaga awujud suwung, ora warno lan ora rupa, Sing ono mung awang-uwung.

Akehing bondho dudu ukuran, drajat lan pangkat dudu takeran, lan pepujane rasa dudu anak, pagering jiwo dudu sanak.

Wong tuwamu dudu Dewa, Ora wenang nulis Garise Manungsa, sangumu mung isi pitutur, Muga dadi titah kang luhur.